Ideologi PKS Dipertanyakan

Rekonsiliasi Nasional I Jembatan Menghilangkan Dendam Antargenerasi
Kamis, 20 November 2008

JAKARTA – Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli mengingatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menindaklanjuti proses rekonsiliasi yang dikemas dalam “Dialog Ahli Waris Mantan Pemimpin Indonesia”. Terobosan untuk menghapuskan dendam antargenerasi ini jangan hanya bersifat simbolis.
“Tujuanya jelas untuk menampilkan citra,” kata Lili saat dihubungi Koran Jakarta, Rabu (19/11).
Dialog Ahli Waris Mantan Pemimpin Indonesia, yang diprakarsai oleh PKS, kemarin, dihadiri beberapa perwakilan keluarga ahli waris pahlawan nasional dan anak mantan presiden, di antaranya Halidah Hatta, Titiek Soeharto, Bambang Sulitomo (putra Bung Tomo), Rustamsil Sahruda (putra Agus Salim), keluarga besar Hasyim Ashari, serta Aisah Gani (putri Syafruddin Prawira Negara).
Turut hadir para undangan seperti mantan cawapres 2004 Solahudin Wahid, penyair Taufik Ismail, dan Group Band Coklat, memeriahkan acara tersebut.

Pendapat berbeda diungkapkan Analis Politik UI Abdul Gafur Sangadji. Menurut Abdul Gafur, dialog yang digelar PKS ini bukan strategi yang cerdas bila target yang dibidik adalah menjadikan partai tersebut sebagai partai terbuka. Langkah tersebut hanya akan menuai kontroversi lanjutan. Partai ini akan dipertanyakan konsistensi ideologinya sebagai partai dakwah.

“Pertemuan itu sebenarnya hanya penegasan saja dari pesan yang termuat dalam iklannya yang kontroversi, bahwa PKS sedang beranjak dari kanan
ke kanan tengah atau sebagai partai nasionalis religius atau moderat,” kata dia.

Abdul Gafur mengingatkan kalau PKS ingin menegaskan sebagai partai moderat, PKS
mesti mengubah dulu platform ideologisnya. Selama itu tidak diubah, PKS hanya akan menjadi partai kontroversi yang potensial menghasilkan sentimen kontraproduktif pada Pemilu 2009.

Bukan Kampanye
Presiden PKS Tifatul Sembiring menegaskan Dialog Ahli Waris Mantan Pemimpin Indonesia adalah untuk mempererat persatuan dan silaturahmi.

“Bukan mencari dana, apalagi kampanye, melainkan murni silahturahmi,” ujar Tifatul dalam pidato pembukaannya dialog itu.
PKS, kata Tifatul, menyadari proses rekonsoliasi tidak hanya cukup dengan mengumpulkan putra-putri mantan presiden maupun cucu para pahlawan. Apa yang dirintis oleh partai ini, menurutnya, merupakan tahapan awal dari sebuah proses rekonsoliasi.
“Kami hanya ingin menjembatani agar tidak ada lagi dendam antargenerasi, misalnya generasi Soekarno dengan generasi Soeharto misalnya,” kata Tifatul.

Titiek Bertanya
Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) mengatakan walau negara belum mengakui bapaknya sebagai pahlawan, sebagian masyarakat Indonesia tetap menganggapnya pahlawan. Itu sebabnya, Titiek hadir di acara dialog yang diadakan oleh PKS ini.
Sebelum acara dimulai, PKS memutar rekaman iklan Hari Pahlawan. Iklan inilah kemudian menjadi kontroversi. Mantan Presiden Soeharto ditampilkan sebagai guru bangsa.
Titiek memberikan pertanyaan singkat dan dalam kepada PKS. Dia bertanya tentang gelar “guru bangsa” buat ayahnya.

“Sebetulnya saya datang ke sini untuk tahu, mengapa bapak saya dalam iklan PKS dikatakan sebagai guru bangsa. Saya ingin tanya pada Pak Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro),” tanya Titiek.
Posisi Titiek duduk memang berada di bangku yang bukan anak atau cucu dari pahlawan. Sedangkan posisi duduk ahli waris pahlawan berada di atas panggung. Mendengar pertanyaan Titiek, Hilmi langsung menjawab.

Menurut Hilmi, dengan meletakkan Soeharto sebagai guru bangsa itu bertujuan untuk melanjutkan silaturahmi antargenerasi kepemimpinan di Indonesia. “Supaya tidak ada cut off, tidak ada tuduhan bahwa generasi lama salah total, itu tidak benar sama sekali,” jawab Hilmi.

Hal positif dari kepemimpinan Soeharto, terang Hilmi, adalah semangat enterpreneurship dan pembangunan di Indonesia. Pengusaha-pengusaha pribumi terus bertumbuhan ketika Soeharto memimpin sampai sekarang, begitu juga dengan pembangunan.
“Karena itu saya mengatakan terlepas dari kesalahan-kesalahan, ada jasa beliau di bidang ekonomi yang tak boleh dilupakan,” jawab Hilmi.

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/details.php?cid=1&id=3906

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s